Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan
Kamis, 03 Oktober 2013 0 komentar

Mari Tertawakan Budaya Tanah Tempatmu Berpijak!

Pernahkah kamu merantau lintas provinsi, Lur? Bagaimana rasanya? Menyenangkan bukan? Teman baru, rumah baru, pengalaman baru, serta bahasa baru. Seperti.. kehidupan baru.

Oh! Bahasa, hambatan yang cukup merepotkan sebenarnya, yaaaaah itu menurutku sih. Coba kamu pikirkan, kamu bisa jadi sorotan, bahkan bahan tertawaan Lur. Sekarang, apakah kamu sepaham denganku? Jika iya, aku yakin sekali kamu pernah mengalaminya sendiri. Tapi mohon maaf kalau aku keliru. Begini, aku akan bercerita lebih spesifik lagi mengenai pengalamanku. Oke aku akui, ini semacam curhat. Begitu? Ya.

Aku adalah gadis Cirebon yang mengais pendidikan di Malang. Iya aku tahu ratusan kilometer itu sangat jauh. Kamu pasti tahu bahasa apa yang digunakan di Malang bukan? Benar, Jawa. Sementara aku hidup di lingkungan Sunda. Jelas ini merupakan hambatan. Ya memang, Cirebon juga memiliki bahasa sendiri yang mirip bahasa Brebes. Tapi tetap saja.. berbeda.

Tapi apa kamu tahu bagaimana reaksi teman-temanku di kampus ketika mendengar aku bicara? TERTAWA. Oh tidak tidak tidak. Kamu tidak salah baca dan aku tidak salah mengetik. Kamu benar, mereka tertawa, mereka benar-benar tertawa. O-ou, maaf aku menekankan kata 'tertawa' terlalu sering, hehe. Wajar saja sih menurutku, tidak ada yang salah dengan itu. Oh, ralat. Ada yang salah dengan jiwa rakyat Indonesia.

Seandainya aku bisa berkata dengan lantang, "Kamu juga bakal diketawain kalo kamu nyasar ke tempat saya sendirian!" tapi nyatanya aku tetap bungkam. Ya.. aku mencoba untuk menjaga hati teman-temanku. Lagipula aku sebatang kara di sini, apa jadinya kalau aku berani bicara di tanah orang? Kembali ke topik. Buktinya memang benar, ketika aku melaksanakan Praktik Industri (salah satu program perkuliahan di jurusanku) di perusahaan yang letaknya tidak jauh dari rumahku, ternyata kepala bagian di divisiku adalah orang Malang, asli  Malang Lur. Setiap beliau berbicara dengan logat Jawa-nya yang medhok pasti ditertawakan adik-adik PKL. Miris.

Apakah seperti itu sikap Bangsa Indonesia? Ironis sekali bukan? Bukannya menghargai tetapi malah menghinanya secara terang-terangan. Apa namanya kalau bukan menginjak-injak harga diri? Rakyat Indonesia yang seperti ini perlu diberi asupan wawasan nusantara yang lebih.

Seharusnya sebagai anak dari tanah air kamu bangga.. oh maaf, kita bangga dengan ragam bahasa yang kita miliki. Jika kita menghina kekayaan bangsa sendiri, maka tidak ada kemajuan untuk memelihara budaya tradisional kita. Negara-negara yang lebih maju saja mengakui kekayaan Indonesia bahkan mengaguminya. Tapi penduduk pribumi? Ah kita ini.. kalau ada di depan mata diabaikan, tapi ketika sudah diklaim oleh negara lain malah mencak-mencak minta dikembalikan haknya. Apa-apaan? Kalau tidak bisa menjaga, seharusnya kita tidak perlu marah kalau ada yang mencuri. Begitulah istilahnya. Ehm.

Beberapa hari yang lalu, aku baru saja mengenal seseorang yang bernama.. mmmm.. aku lupa siapa nama lengkapnya, yah.. Mas Sisco deh. Mas Sisco ini bercerita tentang salah seorang guru besar bernama Prof. Peter Carey yang telah meneliti negara di Asia Tenggara selama puluhan tahun, khususnya Indonesia. Mas Sisco bilang, ketika mereka berkomunikasi via SMS, mereka berdialog menggunakan bahasa Jawa yang paling halus (aku tidak tahu apa namanya, beritahu aku Lur~ kalau kamu tahu. Oke?). Bahkan Pak Carey ini menguasai banyak bahasa daerah di Indonesia lho Lur! You must say 'wow!' Lurs! Ah-ma-jing sekali bukan? Aku saja tidak begitu mahir Bahasa Sunda, sedangkan beliau yang tumbuh di Eropa.. WOW!!! Bahkan ketika aku mendengar cerita Mas Sisco, bulu kudukku meremang, aku terlalu kagum dengan sosok Pak Carey ini. Ckckck.

Nah Lur, tergerakkah kalian sekarang? Sampaikah pesanku kepada kalian melalui tulisan ini? Oh maaf, aku tidak bermaksud mengkritik secara kasar, aku hanya prihatin, aku hanya ingin berusaha untuk menyadarkan. Damai! ^^
Minggu, 30 Juni 2013 0 komentar

10 Things I hope from Gagas Media

Dear Gagas,

Hai Gas, tanpa aku tanya kabarmu pun aku sudah tahu dengan pasti bagaimana dirimu. Seperti yang kamu bilang waktu itu, kita adalah teman baik. Begitu kan? Kamu tidak bisa menjadi Gagas Media seperti sekarang ini tanpaku, pun aku yang tidak akan pernah bisa menjadi Gagas Addict tanpamu. Selama sepuluh tahun ini kamu sudah berjuang sangat keras ya untuk berada di atas. Selamat :)


Sejak tanggal 4 Juli 2003 hingga 30 Juni 2013, usiamu genap 3650 hari, kurang empat hitungan lagi menuju hari istimewa itu. Aku sudah memaketkan pada angin doa untukmu, apakah paket itu sudah sampai? Simaklah sepuluh harapanku untukmu!

1.   Sepintar Will dalam Forgiven
      Pintar menampung dan menuangkan gagasan.
2.   Sekaya Evan dalam Promises Promises
      Kaya akan penulis, editor, desainer, dan kru-kru lainnya yang hebat.
3.   Segokil Sena dalam Paris : Aline
      Gokil gagasannya.
4.   Seberani Lautan dalam Rahasia Sunyi
      Berani mengangkat karya istimewa.
5.   Semenarik Charm dalam Bangkok : The Journal
      Menarik karyanya, seluruh komponen dari karya-karyamu.
6.   Sebijak Rizki dalam Seandainya
      Bijak memilih dan memilah karya trend masa kini.
7.   Selincah Niki dalam Refrain
      Lincah bergerak menembus pasaran.
8.   Sekeras Noval dalam Hujan dan Teduh
      Keras memboyong minat para Gagas Addict.
9.   Sebersinar Princessa dalam I For You
      Bersinar layaknya bintang.
10. Tidak cukup hanya dalam sepuluh harapan. Penting kah suatu bilangan? 
      Apapun itu, yang terbaik untukmu.


Terimakasih karena kamu selalu menemaniku di kala suka dan duka, terimakasih karena para penulismu telah menunjukkanku pengetahuan baru di dalam karya-karyanya. Terimakasih untuk segalanya. Sekali lagi kuucapkan terimakasih. Maaf aku hanya mampu memberikanmu doa, tapi satu hal yang terpenting.. Bertahanlah di atas sana, bertahan menaburkan untaian kata-kata indah itu untukku, untuk kami.
Minggu, 28 April 2013 0 komentar

Burok? Apaan sih Burok itu?

Burok. Makanan macam apa itu Teh? Hahahahaha~ ngga ngga ngga. Itu bukan nama makanan temen-temen, burok adalah salah satu kesenian yang ada di Cirebon. Entah ya di daerah lain ada apa ngga yang kaya begini, tapi tiap kali aku nanya ke temen-temenku yang tinggalnya di luar Cirebon, mereka ga tau lho. Jangan-jangan kamu juga ga tau ya?

Oke.
Burok itu sejenis boneka yang terbuat dari kayu, boneka semacam ondel-ondel gitu lho. Tapi bentuk burok agak unik temen-temen, yakni badannya badan kuda, punya sayap di punggungnya, dan kepalanya berbentuk kepala manusia yang berjubah.

Kalo temen-temen pernah denger cerita Isra' Mi'rajnya Nabi Muhammad SAW, pasti sedikit-sedikit ngerti apa itu burok. Perjalanan Nabi ke langit ngendarain binatang yang namanya Burok. Dan ketika burok dideskripsikan, bentuknya ya kaya yang aku ceritain tadi di atas. Kurang lebih kaya begitu temen-temen.



Kaya yang temen-temen liat di atas, burok umumnya dipake kalo ada acara khitanan. Diarak keliling desa diiringin organ, orang-orangan lainnya kaya misalnya manusia monyet gitu atau badut, terus juga kadang ada singa-singaan. Anak-anak biasanya suka pada naik ke punggungnya burok. Tapi jujur ya temen-temen, seumur-umur aku ga pernah naik burok, takut yakin!

Yap. Itu lah sekilas tentang kesenian khas Cirebon. Kapan-kapan aku ceritain hal lain lagi tentang Kota Udang ini ya temen-temen.
Sabtu, 27 April 2013 0 komentar

Tanah Dimana Aku Melihat Dunia

Kota Udang, iya itu sebutan buat kota kelahiranku. Taukah kalian? Yap! Cirebon. Kota Berintan katanya, bersih indah tertib aman. Hmm semoga aja itu bener-bener kejadian ^^

Jadi yang pengen aku ceritain adalah Kota Cirebon.

Cirebon itu kota paling timurnya Jawa Barat, maksudnya? Tentu aja.. Cirebon adalah kota dari Jawa Barat yang berbatasan langsung dengan Jawa Tengah. Makanya bahasa yang dipake di sana bisa dibilang aga aneh. Gimana ga aneh coba? Iya bahasa Sunda, tapi sundanya paling beda sendiri, kenapa? Kasar! Kasar banget.

Contoh bahasa sunda yang biasa diucapin di kehidupan sehari-hari itu kaya gini..
Udin : nyaneh rek kandi, Dang? (kamu mau kemana, Dang?)
Dadang : kami rek ka  si Asep heula sakeudeung. wara heuh! (aku mau ke si Asep dulu sebentar. tunggu ya!)
oke. Asal temen-temen tau aja ya, bahasa kaya gini tuh udah kasar banget buat warga Jawa Barat lainnya. Yakin!

Dan Cirebon juga punya bahasa sendiri. Ya Bahasa Cirebon, apa lagi? Yang khas di bahasa Cirebon adalah kata "Jeh". Misalnya..
Nina : ira liat pensil kita ga? (kamu liat pensil aku ga?)
Reni : tadi dipinjem Dewi jeh.. (tadi dipinjem Dewi)
"Jeh" ga ada artinya, entah disebut apaan itu, hahahaha~

Secara geografis, perbatasan Cirebon  di sebelah utara itu Indramayu sama Laut Jawa, sebelah timur Jawa Tengah, sebelah selatan Kuningan, dan sebelah barat Majalengka. Beda sama kota-kota pada umumnya, letak Kota Cirebon emang iya ada di tengah wilayah Cirebon, tapi berbatasan langsung sama Laut Jawa. Jadi pesisirnya Cirebon ada di kota ^^
Buat lebih jelasnya, bisa diliat gambar di bawah.

Sebenernya banyak banget kalo mau ngomongin soal Cirebon. tapi karena satu artikel kebanyakan buat ngebahas satu kota itu, jadi mendingan cukup sampe di sini dulu bagi-baginya.
 
;