Tampilkan postingan dengan label Lomba. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lomba. Tampilkan semua postingan
Rabu, 10 Juli 2013 2 komentar

[Review] Javalamp Website by Agustinus Darto Iwan Setiawan

Beberapa waktu yang lalu aku mengujungi sebuah website. Kalau teman-teman mau tahu juga, boleh, itu webnya Pak Darto, Javalamp. Dari namanya saja sudah ketebak apa isinya. Ada yang tahu? Apa coba? Wow! Sarangnya programmer. Seperti aku? Oh bukan, aku hanya mahasiswa informatika yang masih dalam tahap belajar pemrograman. Hehe. Tapi bukan itu yang mau aku bahas kali ini. Yap! Sedikit review untuk Javalamp.

Tulisan ini juga dalam rangka mengikuti giveaway yang diadakan Pak Darto lho! Klik gambar di bawah ini kalau kalian mau ikutan.


 

Seperti kebanyakan web-web seorang ‘laki-laki’, tampilan Javalamp cukup sederhana dan tidak menggunakan banyak elemen warna. Dilatarbelakangi warna putih polos, header yang manis dengan kata-kata yang kalau orang lain baca mendapat kesan “Oh iya, bener juga tuh!” hehe. Kontennya aku akui sangat berbobot, karena yang dibahas adalah ‘all about programmer’,  bisa banyak membantu aku di perkuliahan. Terimakasih Pak Darto! ^^

Selain itu, gaya penulisan Pak Darto juga mudah dimengerti, tulisan-tulisan beliau membuat aku sadar akan banyak hal tentang programming, kritik-kritik yang diberikan Pak Darto lewat webnya benar-benar mengena. Menurutku pribadi sih asik banget. Apalagi dengan warna font konten yang tidak begitu kontras tapi terlihat manis.

Satu yang disayangkan dari web Pak Darto tersebut. Desain web yang terlalu sederhana seperti itu membuat aku bosan. Ya mungkin karena aku seorang perempuan atau masih muda atau apalah, yang jelas aku kurang sreg dengan desain minimalisnya. Memang benar konten adalah hal terpenting dari sebuah blog atau website, tapi dengan tampilan yang menarik pengunjung tidak akan bosan melihat.

Saranku sih Pak Darto revisi sedikit lagi, desainnya saja. Beri sedikit sentuhan pemanis, misalnya mengganti background dengan warna yang kalem selain putih atau diberi pattern sederhana. Seharusnya desain web juga disesuaikan dengan minat pengunjung, karena yang mengunjungi web beliau tidak selalu laki-laki, hehehe. Lain-lainnya, aku suka. Tulisan Pak Darto sangat bermanfaat, iya atau iya? Hahaha. Oke lah, semoga webnya semakin ramai pengunjung ya Pak, makin banyak yang suka, makin bermanfaat untuk kami ^^
Selasa, 09 Juli 2013 12 komentar

Sweet Moment? Mungkin Iya, Mungkin Tidak.

Ini kisahku dulu, delapan bulan yang lalu tepatnya. Aku ingat dengan jelas bagaimana kisah itu berjalan karena hari itu adalah hari ulang tahunku.

Aku dan dia sudah setahun lebih menjalin tali kasih. Jauh-jauh hari sebelum umurku bertambah satu, kami memang sedang ada sedikit masalah. Yah, you know lah, setiap jalan tidak selalu mulus. Jujur saja, waktu itu aku sangat malas meladeni kontaknya. Iya, kami berhubungan jarak jauh, aku di Malang dan dia di Cirebon. Aku warga asli Cirebon, tapi aku mengais ilmu di tanah tempat banyak buah apel tumbuh. Ratusan kilometer jarak di antara kami.

Berhari-hari aku mengabaikan, di manapun. Aku kesal, sangat kesal. Hingga akhirnya malam itu, pernyataan mengejutkanku.

“Kamu tahu gak sekarang aku lagi dimana?” katanya, melalui SMS.

“Ngga.” Sebenarnya aku penasaran, tapi aku menahan diri untuk tetap terkesan jutek.

“Aku lagi ada di kereta.”

Deg!

Kereta. Aku punya feeling ketika dia mengatakan itu. tapi aku berpikir lagi, itu tak akan mungkin terjadi. Pria seperti dia mana mungkin―

Dia mengirimiku SMS lagi di pagi harinya, dia memintaku untuk menjemputnya di stasiun. Astaga.. dia benar-benar melakukannya. Antara percaya dan tidak, aku tetap bersiap-siap untuk pergi ke Stasiun Kota Baru Malang. Waktu itu aku agak terlambat karena jalanan sedang macet.

Setelah aku habiskan waktu sepuluh menit di dalam angkutan umum, akhirnya aku kembali menjejakkan kaki di bumi. Dan aku melihatnya. Berdiri di depan pintu besar stasiun, matanya menelusuri hiruk pikuk Kota Malang di pagi hari, ia masih mengenakan seragam Polteknya.aku punya firasat buruk tentang hal itu.

Aku menyeberangi jalan, berjalan di sela-sela motor yang terparkir rapi. Dia belum melihatku. Ketika aku sampai di hadapannya, dia tersenyum melihatku. Hatiku mencelos sebenarnya, aku rindu senyum itu. dia memberikanku dua bingkisan sambil berkata, “Maaf, cakenya jadi agak berantakan gara-gara kegoyang-goyang pas di kereta tadi.” Aku menerimanya dalam diam. Dia berkata lagi, “Selamat ulang tahun ya.”

Sepanjang perjalanan, tangannya enggan melepaskan tanganku. Jari-jari kami bertautan, walaupun sebenarnya aku tidak ingin seperti ini. Tapi aku akui bahwa aku terharu. Dia bisa sampai ke tempat ini dengan beralasan kepada orangtuanya untuk menghadiri seminar di Semarang bersama rombongan kampusnya. Dia melakukan ini semua untukku? Untuk seseorang yang tidak menginginkannya berada di sini? Dia benar-benar gila.

Maka selama dua hari ini aku menemaninya pergi. Ke Matos, ke Pasar Minggu, ke taman kota. Kami pergi berdua. Aku menemaninya seharian. Dia menolak untuk tidur di dekat kostku, dia malah tidur di masjid tak jauh dari taman kota. Untuk apa sih dia datang jauh-jauh ke sini? Untuk hal tidak penting seperti ini? Sangat kekanak-kanakan, begitu pikirku saat itu.

Tapi, pada tanggal 2 Desember 2012 sebelum kepulangannya ke Cirebon pukul 14.45 WIB, detik-detik sebelum kami berpisah lagi. Aku mulai berpikir, aku jahat sekali ya? Dia melakukan ini semua untukku tetapi aku malah mengabaikannya, malah mencacinya dengan kata-kata yang tidak seharusnya aku ucapkan. Aku menolaknya mati-matian.

Jam terus berputar, aku tidak kuat. Sungguh. Entah ini perasaan berasalah atau tidak ingin melihatnya pergi, tapi saat itu aku menangis. Aku menangis di tengah keramaian stasiun. Dia merengkuhku ke dalam pelukannya, membiarkanku menangis di dada bidangnya.

Panggilan itu datang, kereta segera berangkat dan tibalah waktunya kami berpisah. Aku melihatnya masuk ke gerbang, aku melihatnya berbalik badan, aku melihatnya memandangku dari sana. Dan aku menangis lagi.

Setelah aku kembali ke kamar kostku, aku berpikir bahwa selama dua hari terakhir sebenarnya aku telah melewati hari-hari yang manis bersamanya. Ya, walaupun aku sempat menolaknya, tapi perasaan ini sulit aku pungkiri.



Minggu, 30 Juni 2013 0 komentar

10 Things I hope from Gagas Media

Dear Gagas,

Hai Gas, tanpa aku tanya kabarmu pun aku sudah tahu dengan pasti bagaimana dirimu. Seperti yang kamu bilang waktu itu, kita adalah teman baik. Begitu kan? Kamu tidak bisa menjadi Gagas Media seperti sekarang ini tanpaku, pun aku yang tidak akan pernah bisa menjadi Gagas Addict tanpamu. Selama sepuluh tahun ini kamu sudah berjuang sangat keras ya untuk berada di atas. Selamat :)


Sejak tanggal 4 Juli 2003 hingga 30 Juni 2013, usiamu genap 3650 hari, kurang empat hitungan lagi menuju hari istimewa itu. Aku sudah memaketkan pada angin doa untukmu, apakah paket itu sudah sampai? Simaklah sepuluh harapanku untukmu!

1.   Sepintar Will dalam Forgiven
      Pintar menampung dan menuangkan gagasan.
2.   Sekaya Evan dalam Promises Promises
      Kaya akan penulis, editor, desainer, dan kru-kru lainnya yang hebat.
3.   Segokil Sena dalam Paris : Aline
      Gokil gagasannya.
4.   Seberani Lautan dalam Rahasia Sunyi
      Berani mengangkat karya istimewa.
5.   Semenarik Charm dalam Bangkok : The Journal
      Menarik karyanya, seluruh komponen dari karya-karyamu.
6.   Sebijak Rizki dalam Seandainya
      Bijak memilih dan memilah karya trend masa kini.
7.   Selincah Niki dalam Refrain
      Lincah bergerak menembus pasaran.
8.   Sekeras Noval dalam Hujan dan Teduh
      Keras memboyong minat para Gagas Addict.
9.   Sebersinar Princessa dalam I For You
      Bersinar layaknya bintang.
10. Tidak cukup hanya dalam sepuluh harapan. Penting kah suatu bilangan? 
      Apapun itu, yang terbaik untukmu.


Terimakasih karena kamu selalu menemaniku di kala suka dan duka, terimakasih karena para penulismu telah menunjukkanku pengetahuan baru di dalam karya-karyanya. Terimakasih untuk segalanya. Sekali lagi kuucapkan terimakasih. Maaf aku hanya mampu memberikanmu doa, tapi satu hal yang terpenting.. Bertahanlah di atas sana, bertahan menaburkan untaian kata-kata indah itu untukku, untuk kami.
 
;